• Minggu, 5 Februari 2023

Lagu Natal Malam Kudus, Rintihan Hati Seorang Anak Haram

- Senin, 5 Desember 2022 | 05:44 WIB
Kristian Emanuel Anggur (Foto: Suara Buruh )
Kristian Emanuel Anggur (Foto: Suara Buruh )

Oleh: Kristian Emanuel Anggur

OPINI - “Malam Kudus, sunyi-senyap, bintang-Mu gemerlap…”, dst. Aslinya, berjudul: Stille nacht, atau heilige nacht! Sepanjang sejarah Natal, selama hampir dua ratus tahun lebih, lagu ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia.

Dalam bahasa Inggris, diterjemahkan dengan: Silent night, atau holy night. Orang Indonesia, menerjemahkannya dengan: “Malam Kudus.” Dan orang Manggarai, menyanyikannya dengan: “Wié Nggeluk Bail.”

Pasti daerah lain juga sudah punya terjemahannya. Lagu yang amat memukau! Bukan saja menggetarkan jiwa musical para musisi di blantika musik rohani, tetapi juga berhasil membius perasaan religious semua umat kristiani.

Lagu sendu yang menjadi lagu kesukaan banyak orang. Tanpa lagu ‘Malam Kudus’, perayaan natal terasa hambar. Tanpa lagu Malam Kudus, natal terasa sepi. Tapi tahukah anda, bagaimana latar belakang kisah cipta, karsa dan rasa di balik keindahan syair lagu ini?

Baca Juga: Waspadai Politisasi Agama Oleh Kelompok Radikal

Lagu “Malam Kudus”, diciptakan oleh seorang imam muda, bernama Yoseph Mohr. Ia seorang pastor desa sederhana di Mariapfar, tepatnya, di kawasan perbukitan Alpen Austria, pada tahun 1816.

Lagu ini ditulis untuk mengenang kemalangan nasibnya sendiri, sebagai anak haram. Ia lahir di luar nikah resmi gereja Katolik, dari sang ibunda, bernama Anna Schoiber. Ibu Anna Schoiber mengandung anak di luar nikah.

Dirinya hamil ketika berkenalan dengan seorang tentara Jerman, bernama Frans Yoseph Mohr. Karena mengandung dan melahirkan anak haram di luar nikah, ibunda-nya, Anna Schoiber, tidak diterima dalam lingkungan pergaulan masyarakat Austria saat itu.

Halaman:

Editor: Kristianus Nardi Jaya

Tags

Terkini

Gabungan Serikat Buruh Gugat Perppu Ciptaker Ke MK

Jumat, 27 Januari 2023 | 00:37 WIB
X