• Minggu, 5 Februari 2023

Di Kabupaten Manggarai, Tanaman Sorgum Sebagai Program Prioritas 2023

- Kamis, 1 Desember 2022 | 12:29 WIB
Enam Desa di Kecamatan Satar Mese, Kabupaten Manggarai-NTT berkomitmen  mengembangkan sorgum (Foto: Rikard Roden)
Enam Desa di Kecamatan Satar Mese, Kabupaten Manggarai-NTT berkomitmen  mengembangkan sorgum (Foto: Rikard Roden)

Manggarai - Enam Desa di Kecamatan Satar Mese, Kabupaten Manggarai-NTT berkomitmen  mengembangkan sorgum sebagai tanaman untuk menjamin ketahanan pangan, meningkatkan pendapatan petani, mencegah stunting, dan mengurangi lahan kritis yang telah ditinggalkan oleh kebanyakan petani.

Komitmen ini merupakan hasil dari pertemuan 6 pemerintah desa bersama Yayasan Ayo Indonesia di Aula Kantor Kepala Desa Iteng, Selasa (29/11/2022), 

Pertemuan yang digagas oleh Yayasan Ayo Indonesia dan Yayasan Kehati Jakarta ini membicarakan tentang arah pengembangan sorgum di Kecamatan Iteng ke depannya. Kepala Desa yang berpartisipasi pada pertemuan ini, antara lain, Kepada Desa Gara, Iteng, Tal, Langgo, Legu dan Satar Loung. 

Baca Juga: Lengkap! Ini Jadwal Pelni Labuan Bajo Bulan Desember 2022
Peserta pertemuan sepakat bahwa pengembangan sorgum menjadi salah satu program prioritas dari penggunaan dana desa pada Anggaran Pendapatan Dan Belanja Desa (APBDes) tahun 2023 dengan mengacu kepada Permendesa PDTT Nomor 8 Tahun 2022 tentang prioritas penggunaan dana desa tahun 2023.

Pengalokasian dana desa fokus pada kegiatan produksi sedangkan untuk pengolahan paska panen yang membutuhkan mesin atau peralatan pengolahan akan dibicarakan dengan pemerintah daerah.

Dari segi regulasi terkait penggunaan dana desa untuk pengembangan sorgum diperlukan juga satu acuan kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah Manggarai dalam bentuk Peraturan Bupati (Perbup) agar  desa-desa di Manggarai yang wilayahnya dari segi agroklimat cocok untuk budidaya sorgum wajib mengembangkan sorgum.

Timoteus Mampu, Kepala Desa Langgo pada pertemuan itu mengatakan bahwa desanya siap mengalokasikan dana desa untuk program sorgum tetapi hanya untuk memproduksi karena dana desa terbatas sedangkan untuk peralatan pengolahan paska panen sebaiknya kita mengusulkannya kepada pemerintah daerah agar setiap desa nanti memilik mesin pengolahan paska panen, sehingga sorgum bisa dikonsumsi seperti beras.

Para peserta pertemuan juga sepaham bahwa penerima manfaat dari program pengembangan sorgum rencananya adalah para petani dan anak-anak muda putus sekolah melalui pemanfaatan lahan kritis yang luasnya  68 Ha atau 9,71 persen dari 700 ha total lahan kritis  yang terdapat di 7 desa, di Kecamatan Iteng.  

Halaman:

Editor: Hubertus Basri

Tags

Terkini

X